Artikel dari para Komandan Skadron

Strategic Development



D

ari fakta organisasi sebagai wadah kegiatan usaha, Skadron Udara 32 didirikan sekitar tahun 1964 yang dilengkapi dengan kekuatan pesawat pesawat An-12B buatan Rusia berkedudukan di Lanud Husein Sastranegara yang pada tahun 1970 dilikuidasi oleh pimpinan TNI AU karena adanya tekanan tekanan politis pada saat itu. Sedangkan dari fakta kekuatan yang mengisi organisasi maka Skadron Udara 32 yang sekarang, dibentuk pada tanggal 11 Juli 1981 sebagai hasil dari pengakftifan kembali Skadron Udara 32 dengan kekuatan yang terdiri dari C-130H versi yang lebih varu dan bermarkas di Lanud Abdulrachman Saleh. Dengan demikian maka sejak tanggal 11 Juli 1981 TNI AU memliki 2 Skadron Udara Angkut Berat dengan jenis pesawat yang sama. Kalaupun dicari cari perbedaan nya hanyalah pada bentuk fisiknya saja, dimana Skadron Udara 31 dilengkapi dengan jenis C-130H Strech (body) dan Skadron Udara 32 dengan jenis C-130 Standard (body).

Pada saat itu, timbul pemikiran, dari tinjauan penyebaran strategis (Strategic Deployment) dimana Skadron Udara 32 dimaksudkan sebagai pelaksana tugas tugas operasi di Wilayah Indonesia Bagian Timur sementara Skadron Udara 31 untuk melaksanakan tugas tugas operasi di Wilayah Indonesia Bagina Barat. Pemikiran tersebut tampaknya memang ada relevansi nya dengan pembentukan Koopsau 1 (Wilayaha Indonesia Bagian Barat) dan Koopsau 11 yang berlokasi di Wilayah Indonesia Bagian Timur. Namun karena keterbatasan suku cadang sehingga kesiapan rata rata armada C130 pada kedua Skadron dari tahun ke tahun terus menurun kadang-kadang kesiapan dibawah 50% maka pembagian penugasan operasi atas dasar wilayah antara Skadron Udara 31 dengan Skadron Udara 32 tidak dapat diterapkan. Bahkan dapat dikatakan dalam implementasi nya pelaksanaan tugas tugas operasi baik untuk wilayah Indonesia Bagian Barat maupun untuk Indonesia Bagian Timur dilaksanakan secara bersama sama ataupun secara bergantian tergantung kesiapan pesawat terbang

Dari tinjauan fungsi, pada saat itu berkembang adanya pemikiran untuk mengkhususkan tugas pokok bagi Skadron Udara 32 sebagai Skadron Training (tugas tugas latihan), sementara Skadron Udara 31 untuk tugas pokok operasional. Untuk itu maka Skadron Udara 32 dituntut untuk mampu menetapkan standar normatif bagi persyaratan kualifikasi awak pesawat 130 pada kedua Skadron 31 dan 32 mulai dari kualifikasi sebagai instruktur Pilot, Captain Pilot, Co Pilot, Navigator dan awak pesawat lain nya. Dengan demikian diharapkan kedua Skadron udara mempunyai standar kualifikasi awak pesawat yang sama untuk pengoperasian jenis pesawat yang sama pula (C130). Dengan kata lain, markas Skadron Udar 32 akan dipenuhi dengan ketentuan/ukuran normatif (standard requirement), silabi, prosedur dan konsep konsep pengembangan latihan awak pesawat C130 (dasar dan operasional) sementara markas Skadron Udara 31 hanya akan dipenuhi oleh prosedur dan konsep konsep operasional saja

Penugasan awak pesawat diatur secara rotasi (bergilir) sehingga seorang instruktur penerbang akan memperoleh giliran penugasan penerbangan operasional yang sama dengan awak pesawat lain nya baik yang ditempatkan secara administratif di Skadron Udara 31 maupun Skadron Udara 32. Namun kembali lagi pada masalah tingkat kesiapan armada C130 yang rendah pada kedua Skadron Udara tersebut, maka dari tinjauan fungsi untuk membedakan secara tegas tugas pokok masing masing Skadron Udara juga sukar untuk diterapkan

Selanjutnya dalam menyampaikan harapan dan pesan pesan saya kepada warga Skadron Udara 32 saya hanya akan menekankan bahwa yang paling utama sebenarnya bukanlah bagaimana pembagian wilayah operasi nya ataupun pembedaan fungsi dan tugas pokoknya melainkan bagaimana sebuah Skadron udara sebagai ujung tombak organisasi TNI AU dapat melaksanakan tugas tugas nya secara profesional. Kata kunci untuk mencapai profesionalisme adalah pembinaan SDM/awak pesawat, karena SDM/Awak pesawat adalah faktor yang paling dominan dalam menentukan keberhasilan pencapaian tujuan organisasi. Bagaimanapun canggihnya alat peralatan yang dimiliki TNI AU tidak akan dapat dioperasikan secara optimal sehingga berhasil dan berdaya guna, bila tidak diawaki oleh tenaga tenaga SDM/Awak pesawat yang profesional yang diberi peran dan tanggung jawab sesuai dengan bidang kemampuan nya masing masing.

by Herky 01